Ads 468x60px

Portal dunia maya yang menyediakan layanan informasi, konsultasi, sharing pengalaman seputar dunia tambak di Aceh

Featured Posts

Sabtu, 22 Oktober 2011

Temu Wicara ACIAR dengan Petambak Samalanga

Kegiatan temu wicara dengan petambak samalanga dilakukan untuk mengetahui perkembangan kegiatan budidaya ikan nila salin di tambak idle yang di bantu oleh ACIAR dan bekerja sama dengan BBAP Ujung Batee sebagai pendamping teknis.

Kedatangan TIM ACIAR didamping oleh BBAP Ujung Batee sebagai pendamping teknis kegiatan lapangan. ACIAR di wakili oleh Mike Rimmer, Imran Lapong, sedangkan dari BBAP Ujung Batee Coco Kokarkin selaku kepala balai, Hasan dan Ri Zal.


Rombongan sebelum melakukan kegiatan temu wicara melakukan kunjungan ke beberapa tambak yang terlibat dalam kegiatan budidaya ikan nila salin. Tambak pertama yang dikunjungi adalah milik Baihaki rombongan melihat nila yang telah di pelihara selama 3 bulan kegiatan berlangsung.



Selain ketambak Baihaki, rombongan juga melakukan peninjauan Mustapha, Khairul dan T Safwan. Rombongan dapat membandingkan pertumbuhan yang didapat di beberapa tambak tersebut. Tambak yang memiliki tumbuhan air sejenis cabomba memiliki pertumbuhan yang lebih baik bila di bandingkan dengan tambak yang tidak memiliki tumbuhan air.






Kunjungan terakhir dilakukan ke tambak T Syeh Marhaban tempat temu wicara dilakukan. Rombongan melihat pertumbuhan yang cukup baik di tambak Marhaban, di duga pertumbuhan yang cukup baik ini dikarenakan banyaknya tumbuhan air yang masih berlimpah di dalam tambak.



Kegiatan temu wicara di hadiri oleh para petambak yang terlibat dalam kegiatan budidaya ikan nila salin. Temu wicara dipimpin oleh Hasanuddin, Mike dalam sambutannya sangat berharap kegiatan yang dilakukan dapat membantu meningkatkan pendapatan masyarakat samalanga. Sedangkan Coco Kokarkin menjelaskan secara teknis tentang usaha pembenihan ikan nila salin.

Dalam temu wicara petambak yang diwakili oleh T Safwan mengatakan diharapkan kedepannya kegiatan ini dapat berlanjut tetapi kami tidak ingin mendapatkan benih kembali tetapi kami membutuhkan beberapa induk ikan nila karena selama kegiatan ini berlangsung sangat banyak masyarakat yang bertanya benih ikan nila yang bagus ini didapat dari mana?.

Menurut beliau masyarakat melihat perbedaan yang begitu baik bila di bandingkan dengan benih yang berasal dari daerah setempat atau lokal punya. Hal ini di jawab oleh Coco Kokarkin dengan teknik pembenihan ikan nila secara sederhana. Menurut Coco pembenihan ikan nila dapat dilakukan dengan menggunakan 3 buah hapa, hapa pertama untuk pemeliharaan induk jantan, hapa kedua untuk pemeliharaan induk betina sedangkan hapa ketiga untuk tempat pemijahan atau perkawinan.

Temu wicara diakhir dengan pesan dari Hasan untuk para petambak, dipesankan agar para petambak menghitung dan mencatat pakan yang digunakan serta jumlah panen nantinya, karena menurut beliau kegiatan ini bukan hanya kegiatan bantuan tetapi kegiatan penelitian yang nantikan data yang didapat dapat digunakan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat.



Read more »»  

Kamis, 23 April 2009

SOP Diagnosis Penyakit

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP)
DIAGNOSIS PENYAKIT

1.    Petambak melaporkan kepada petugas ALSC tentang kejadian di lapangan/tambak

2.    Pengambilan sampel untuk pemeriksaan
  • Sampel ikan atau udang yang dapat diperiksa di laboratorium meliputi ikan sakit yang masih hidup (live affected fish), ikan beku (frozen fish), ikan baru mati yang didinginkan (freshly dead Chilled fish) dan ikan yang terfiksasi (preserved specimens).
  • Pilih sampel ikan atau udang yang sakit yang menunjukkan tanda-tanda khusus dari suatu penyakit.
  • Sampel yang sama dibutuhkan juga dari tambak lain jika ada beberapa tambak terkena penyakit.

3.    Pengiriman sampel untuk pemeriksaan ke laboratorium analisa
  • Beritahukan laboratorium bagaimana dan kapan sampel akan tiba.
  • Sampel ikan hidup dimasukan ke dalam kantong plastik yang berisi air dan oksigen.  Jumlah air yang diperlukan adalah sebanyak 2 liter untuk 5-10 ekor ikan kecil berukuran 10 cm.  Kemudian kantong plastik berisi sampel tersebut dimasukan ke dalam wadah misalnya stereoform.  Kemudian masukkan sejumlah es yang dibungkus plastik ke dalam wadah atau stereoform tersebut.
  • Sampel ikan beku terutama layak untuk pemeriksaan toksikologi misalnya logam berat dan residu pestisida serta pemeriksaan pathology anatomi.
  • Sampel ikan baru mati dan didinginkan layak untuk sebagian besar analisis apabila dengan segera dilakukan pemeriksaan di laboratorium. Namun sampel ini kurang layak digunakan untuk pemeriksaan parasit.  Apabila dalam keadaan dingin, sampel ikan besar masih layak dianalis dalam kurun waktu 12 jam, namun hanya 1-2 jam untuk sampel ikan berukuran kecil.  Sampel dibungkus rapat dalam plastik kemudian masukkan ke dalam wadah atau stereoform yang berisi es.  Pastikan sampel tidak langsung kontak langsung dengan es (agar tidak terkontaminasi air).
  • Sampel ikan terfiksasi. Sampel ini diawetkan dalam beberapa macam larutan kimia misalnya larutan Davidson, larutan Bouin’s larutan formalin 10% dan ethanol 95%.  Preservasi sampel dalam ethanol 95%, digunakan untuk pemeriksaan Polymerase Chain Reaction (PCR).  Sedangkan preservasi dalam larutan Davidson, Bouin’s dan formalin 10% digunakan untuk pemeriksaan Histopathologi.  Larutan Davidson mengandung 30 bagian Ethanol 95%, 20 bagian formalin 40%, 10 bagian asam asetat glacial, dan 30 bagian air.  Kemudian pindahkan sampel terfiksasi ke larutan ethanol 70 dalam kurun waktu satu minggu.  Jenis sampel ini tidak dapat digunakan untuk mengisolasi agen patogen.
  • Pada pengiriman sampel yang diawetkan ke laboratorium, tuangkan bahan pengawet, letakkan spesimen ke dalam kantong plastik, buang sisa udara yang ada dalam kantong plastik, dan tutup kantong plastik dengan rapat menggunakan isolasi. Sebaiknya tidak ada cairan bebas dalam kantong. Potongan kertas atau kain dapat ditempatkan di sekeliling kantong spesimen untuk menjaga kelembapan spesimen dan menyerap jika ada larutan pengawet yang tumpah. Letakkan kantong dan spesimen ke dalam kantong plastik kedua, buang sisa udara yang ada dalam kantong plastik, dan tutup kantong plastik dengan rapat menggunakan isolasi. Seharusnya, tidak ada bau larutan pengawet yang keluar dari kantong tersebut.
  • Berikan label untuk setiap kantong, jika spesimen yang akan dikirim lebih dari 1 yang diletakkan di dalam 1 box yang sama.
  • Letakkan katong yang berisikan specimen dan telah diberikan label terlebih dahulu kedalam kardus atau cool box standar untuk budidaya.
  • Tambahkan pengepakan untuk mencegah rusaknya spesimen selama transportasi.
  • Sejarah kejadian penyakit (form) harus juga dikirimkan bersama dengan pengiriman sampel mencakup beberapa hal antara lain:
  • Data Pengirim dan pemilik sampel disertai alamatnya.
  • Data populasi produk budidaya meliputi jumlah, jenis spesies, umur, ukuran asal dan lama pemeliharaan.
  • Data kejadian penyakit meliputi mortalitas, morbiditas, gejala klinis yang timbul, waktu kejadian penyakit dan pengobatan yang telah dilakukan.
  • Tipe tempat pemeliharaan apakah dalam bentuk bak atau tambak, penggunaan filter atau alat untuk treatmen air serta pengelolaan kualitas air lainnya.
  • Data lingkungan meliputi pH, DO, salinitas aliran air, kelimpahan alga serta cuaca.
  • Data manajemen pemeliharaan meliputi kemungkinan adanya faktor penyebab stres, grading, pemberian vaksin dan manajemen pemberian pakan.
  • Data sampel yang dikirimkan, permintaan jenis analisis dan waktu Pengambilan sampel sebaiknya dilakukan oleh Petugas Pengambil Contoh (PPC) yang telah melakukan pelatihan pengambilan sampel.  Untuk petani, sebaiknya sampel biota atau produk budidaya dikirimkan dalam keadaan hidup agar mempermudah analisis sampel.

4.    Hasil analisa dikirimkan kembali ke ALSC

5.    Penginformasian hasil analisa oleh ALSC kepada petambak
  • Hasil analisa/pemeriksaan sampel yang diterima oleh ALSC kemudian disampaikan kepada petambak.
Read more »»