|
Upaya itu melalui klaster usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) dan penelitian lending model (model pola pembiayaan) komoditi unggulan di daerah itu.
Nota Kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) kerja sama itu ditandatangani Pemimpin BI Kupang, Lukdir Gultom, Direktur Umum Bank NTT, Adrianus Ceme, S.E, dan Bupati Belu, Drs. Joachim Lopez, di Aula Betelalenok, Atambua, Selasa (30/3/2010).
Kerja sama ini berfokus pada proyek pengembangan klaster penggemukan sapi dan klaster tambak ikan bandeng. Dua potensi itu dikembangkan untuk peningkatan ekonomi masyarakat.
Penandatanganan MoU bertepatan dengan kegiatan musyawarah perencanaan pembangunan daerah (Musrenbang) Kabupaten Belu tahun 2010.
Hadir Uskup Atambua, Mgr. Dr. Dominikus Saku, Pr, Asisten III Sekda NTT, Ir. Ans Takalapeta, Wabup Belu, Taolin Ludovikus, BA, Ketua DPRD Belu, Simon Guido Seran dan undangan lainnya.
Pemimpin BI Kupang, Lukdir Gultom, menjelaskan, BI sangat respek dengan kerja sama antara Bank NTT dengan Pemkab Belu dalam mendorong UMKM di wilayah perbatasan.
Upaya ini mutlak dilakukan, karena potensi unggulan di Belu cukup besar, terutama pada pengembangan klaster penggemukan sapi dan klaster tambak ikan bandeng.
Bagi BI, upaya yang dilakukan itu untuk mempercepat pertumbuhan sektor riil dan UMKM, melalui pilot project klaster. Hal itu bertujuan meningkatkan peran perbankan dalam pembangunan melalui pemberian kredit kepada sektor UMKM.
Khusus di Kabupaten Belu, kata Gultom, klaster penggemukan sapi terkonsentrasi di Kecamatan Laenmanen dan Kecamatan Malaka Timur. Sementara klaster tambak ikan bandeng terkonsentrasi di Desa Lakekun dan Desa Badarai di Kecamatan Malaka Barat.
"Kerja sama ini berdasarkan kemitraan dan kontribusi bersama dalam berbagai kegiatan, dengan sasaran UMKM yang bergerak dalam usaha penggemukan sapi dan tambak ikan bandeng," ujarnya.
BI, lanjut Gultom, akan memberikan bantuan teknis, antara lain pelatihan aspek produksi, aspek manajemen kelompok dan aspek keuangan kelompok.
"Kami menilai Kabupaten Belu sebagai wilayah perbatasan, harus dikembangkan potensinya. Dan, kerja sama ini akan memberikan peluang bagi peningkatan investasi," ujar Gultom.
Tentang dipilihnya usaha penggemukan sapi, dia menguraikan, sapi merupakan komoditi unggulan yang menjadi ciri khas Propinsi NTT dan Belu khususnya. Besarnya potensi itu mendorong BI melakukan kajian aplikatif untuk meningkatkan nilai tambah di pasaran dan membuat harga sapi stabil. (*)
|