| GERAKAN VAKSINASI IKAN KERAPU DI BBAP SITUBONDO Sebagai upaya peningkatan produksi perikanan budidaya |
|
|
|
| Saturday, 21 May 2011 08:57 |
|
PENDAHULUAN “Mencegah lebih baik daripada mengobati” adalah slogan yang sering kita dengar, bukan hanya ditujukan untuk manusia, tetapi berlaku bagi kesehatan ikan agar ikan yang kita pelihara sehat dan tahan terhadap serangan penyakit, karena bagaimanapun mencegah terjangkitnya suatu penyakit adalah jauh lebih baik dan lebih rendah biaya yang dikeluarkan daripada mengobati penyakit atau menerima akibat yang ditimbulkan dari penyakit yang sedang menyerang. Pada budidaya ikan, semakin tingginya tuntutan untuk meningkatkan hasil budidaya perikanan menyebabkan segala macam cara digunakan untuk menghasilkan produksi yang lebih baik daripada sebelumnya, antara lain sistem budidaya yang semakin intensif, perbaikan teknologi perikanan, maupun perluasan lahan, dimana hal ini merupakan salah satu penyebab terjadinya perubahan ekosistem yang pada akhirnya muncul beragam penyakit yang menyerang organisme budidaya. Penyakit yang timbul tentu saja sangat merugikan dan mempengaruhi hasil produksi, terlebih apabila terjadi serangan virus yang pada dasarnya tidak dapat diobati. Oleh karena itu alternatif penanggulangannya adalah dengan melakukan pencegahan sedini mungkin, baik dengan perbaikan lingkungan, memutus sumber infeksi, penggunaan benih bebas virus dan meningkatkan daya tahan inang baik dengan perbaikan nutrisi dan peningkatan imunitas. Antibiotik selain digunakan sebagai obat terkadang juga digunakan sebagai pencegahan, tetapi belakangan ada regulasi yang mengatur tentang penggunaan antibiotik, karena pemakaian antibiotik lebih cenderung berdampak negatif daripada positif, seperti misalnya timbulnya residu pada ikan dan resistensi bakteri terhadap antibiotik bila pemberiannya tidak sesuai dengan aturan medis. Residu antibiotik ini dapat mengganggu kesehatan manusia yang mengkonsumsi ikan tersebut maupun bagi ikan itu sendiri karena morbiditas dan mortalitas akan meningkat dan biaya pengobatan menjadi lebih mahal karena harus menggunakan antibiotik yang baru. Selain itu resistensi bakteri dapat dipindahkan ke bakteri lainnya sehingga bakteri yang lain menjadi resisten. Hal ini menambah kesulitan dalam pengobatan. Untuk itu perlu dilakukan upaya lain dalam menanggulangi masalah tersebut dan menghindari dampak negatif dari penggunaan antibiotik, antara lain tindakan pencegahan melalui peningkatan kekebalan dengan vaksinasi dimana selain untuk mencegah penyakit juga tidak akan terjadi resistensi bakteri dan residu antibakteri. Balai Budidaya Air Payau Situbondo telah berhasil mengembangkan vaksin DNA dan melakukan gerakan vaksinasi ikan yang merupakan upaya perbaikan manajemen kesehatan ikan, dengan harapan kesehatan ikan menjadi optimal, kematian ikan akan berkurang dan pada akhirnya produksi ikan meningkat seperti yang diharapkan.
VAKSIN Vaksin merupakan preparat biologi (antigen) yang dapat meningkatkan kekebalan (antibodi) pada suatu individu. Vaksinasi merupakan upaya pengendalian penyakit ikan karena dapat mengurangi interaksi antara agen penyakit dengan host (inang). Tujuan dilakukannya vaksinasi adalah memberikan antibodi pada ikan, sehingga dapat melawan antigen atau mikroorganisme penyebab penyakit. Program Gerakan Vaksinasi yang diselenggarakan BBAP Situbondo di wilayah kerjanya salah satunya adalah pengurangan kasus penyakit pada ikan, sehingga produksi ikan meningkat.
Menurut Prof. Kamiso (Guru Besar Jurusan Perikanan UGM), vaksin yang dapat digunakan dalam upaya pencegahan penyakit ikan dapat berupa vaksin aktif (mikroorganisme yang dilemahkan), vaksin inaktif (mikroorganisme yang dimatikan), bagian mikroorganisme (lipopolisakarida, protein, flagela, atau pili), protein rekombinan, serta DNA. Balai Budidaya Air Payau Situbondo sendiri telah menggunakan vaksin inaktif untuk penyakit vibriosis dan VNN. Selain itu, BBAP Situbondo tengah mengembangkan vaksin DNA untuk penyakit VNN bekerjasama dengan IPB.
Jenis vaksin inaktif yang telah digunakan di BBAP Situbondo dan telah digunakan juga di pembenihan-pembenihan dan pembesaran ikan kerapu adalah vaksin polivalen vibriosis. Vaksin ini digunakan untuk menjegah penyakit vibriosis yang sering menyerang ikan kerapu dan juga ikan-ikan laut lainnya yang disebabkan oleh infeksi bakteri Vibrio. Vaksin polivalen adalah vaksin yang terdiri dari beberapa antigen yang memiliki beberapa epitope. Epitope adalah bagian antigen (tempat penentu) yang benar-benar berespon dengan klon-klon limfosit. Tempat penentu tersebut akan menyebabkan reaksi-reaksi silang sesuai dengan gaya ikat masing-masing pada antibodi-antibodi. Sehingga ikan yang telah diberi vaksin maka klon-klon limfosit ikan tersebut akan aktif dan akan menghasilkan antibodi. Antibodi inilah yang akan digunakan untuk melawan antigen-antigen dari bakteri vibrio yang masuk ke dalam tubuh ikan. Semakin banyak antibodi yang dimiliki oleh ikan maka akan semakin kebal ikan tersebut terhadap antigen yang dikenal oleh antibodi tersebut. Oleh sebab itu dalam penggunaan vaksin polivalen vibriosis perlu dilakukan booster atau pemberian vaksin kedua setelah 5-10 hari dari pemberian vaksin yang pertama kali.
Jenis vaksin lain yang digunakan untuk mencegah penyakit yang juga sering menyerang ikan kerapu dan sering menyebabkan kematian massal adalah vaksin untuk penyakit Viral Nervous Necrosis (VNN). Penyakit ini disebabkan oleh infeksi virus yang menyerang sistem sistem saraf dan dapat menyebabkan kematian massal dalam waktu yang singkat. Jenis vaksin untuk mencegah penyakit VNN ini adalah jenis vaksin DNA. Sehingga berbeda dengan vaksin polivalen vibriosis. Jika pada vaksin polivalen vibriosis yang dimasukkan adalah antigen dari patogen yang telah dimatikan atau dilemahkan maka pada vaksin DNA yang diberikan adalah DNA murni (naked DNA) dalam bentuk konstruksi gen yang mengkode untuk pembuatan vaksin antigen yang dalam hal ini adalah vaksin untuk antigen VNN jadi yang diberikan antigen itu sendiri seperti pada vaksin polivalen vibriosis. Sehingga ikan yang telah diberi vaksin DNA VNN mampu memberikan respons imunologi jika terserang nodavirus penyebab penyakit VNN.
Ada beberapa metode vaksinasi, antara lain : Injeksi/suntikan, perendaman, oral/pakan, pencelupan, pemandian dan penyemprotan. Perlakuan vaksinasi biasanya disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi yang ada karena tiap-tiap metode memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Contoh jika menggunakan metode perendaman maka jumlah ikan yang divaksin bisa lebih banyak dalam waktu yang relatif lebih cepat, namun metode ini memiliki kelemahan yaitu vaksin yang digunakan lebih banyak jika dibanding dengan metode suntik. Metode lain yang bisa digunakan untuk vaksinasi pada ikan dalam jumlah banyak adalah dengan cara vaksin disemprotkan pada pakan yang akan diberikan pada ikan. Metode ini relatif lebih cepat namun kelemahannya vaksin bisa saja larut atau terlepas ke air sebelum pakan termakan ikan, dan selain itu jumlah vaksin yang masuk ke ikan akan berbeda-beda sesuai dengan jumlah pakan yang dimakan oleh masing-masing ikan. Metode yang dianggap paling efektif untuk memasukkan vaksin ke dalam tubuh ikan adalah dengan metode penyuntikan. Dengan metode penyuntikan maka jumlah vaksin yang masuk akan sesuai dengan dosis yang telah ditentukan. Namun demikian metode ini juga memiliki kelemahan yakni membutuhkan waktu yang lebih lama dan tenaga vaksinator yang terampil dan juga banyak sesuai dengan jumlah ikan yang akan divaksin.
Hal-hal yang perlu diperhatikan oleh vaksinator dalam melakukan vaksinasi adalah dengan menjaga kestabilan vaksin, yaitu dengan mengkondisikan vaksin berada pada suhu 4 °C (dengan menggunakan es batu di dalam coolbox). Vaksin juga harus dijaga kebersihannya setiap kali pengambilan ketika diaplikasikan. Selain itu, dalam aplikasi vaksin dengan penyuntikan, harus menggunakan jarum suntik dengan ukuran kecil (26G, diameter 0.45mm) dan selalu mengganti jarum suntik yang baru ketika dirasa sudah tumpul (jumlah yang disuntik mencapai ± 70-100 ekor ikan kerapu ukuran 7 cm). Sedangkan persyaratan mutlak dalam melakukan vaksinasi adalah ikan harus dalam kondisi yang sehat. Namun, terkadang dalam populasi ikan yang besar, vaksinator kesulitan dalam menentukan status kesehatan ikan tersebut. Untuk itu, anamnese atau histori kondisi ikan tersebut dapat ditanyakan kepada pemilik atau pegawai pada tempat budidaya ikan yang akan divaksinasi. Hal-hal yang perlu ditanyakan antara lain mengenai kondisi kesehatan ikan secara umum, nafsu makannya, kematian pada populasi tersebut pada 48 jam terakhir, pergerakan dan agrefitas ikan, kondisi air, dan hal-hal lain yang sekiranya dianggap perlu ditanyakan.
Dalam melakukan vaksinasi, kehati-hatian vaksinator juga sangat diperlukan. Ketelitian serta ketegasan vaksinator dalam menyeleksi ikan yang akan divaksin mutlak diperlukan karena persyaratan mutlak yang harus dipenuhi ketika akan melakukan vaksinasi adalah ikan dalam kondisi sehat. Kenyataan di lapangan, dalam 1 populasi ikan (1 bak) sering terdapat ikan yang sakit, luka, atau cacat, yang mana persentase ikan yang sakit antara 2-10%. Ketika menemukan hal ini, vaksinator diharapkan mampu menyampaikan kondisi ikan dan memberikan penjelasan kepada pembudidaya ikan akan resiko vaksinasi. Jika angka persentase ikan sakit/cacat lebih tinggi lagi, vaksinator diharuskan menghentikan kegiatan vaksinasinya atau menunda sampai ikan-ikan yang akan divaksin dalam kondisi yang sehat. Kurangnya pengetahuan pembudidaya ikan akan vaksinasi, menimbulkan berbagai persepsi yang salah terhadap vaksinasi. Ketika melakukan vaksinasi di lapangan, tak jarang tim vaksinator BBAP Situbondo masih menemukan kekhawatiran pembudidaya, seperti vaksinasi dapat menimbulkan kematian atau ikan menjadi cacat, sehingga membuat nilai jual ikan menurun. Untuk meluruskan hal tersebut, sekali dalam 1 tahun, BBAP Situbondo senantiasa menyelenggarakan pelatihan vaksinasi kepada pembudidaya agar mereka lebih mengenal vaksinasi.
Sejauh ini, BBAP Situbondo memiliki 8 personel vaksinator dengan kredibilitas yang baik dan jam terbang yang cukup tinggi. Namun dengan jumlah tersebut, BBAP Situbondo juga masih kewalahan untuk memenuhi animo masyarakat akan vaksinasi diwilayah kerjanya. Untuk itu itu, pelatihan vaksinasi yang diselanggarakan oleh BBAP Situbondo juga dilakukan sebagai sarana belajar dan latihan vaksinasi masyarakat perikanan, khususnya petugas lapangan dan pembudidaya agar mampu melakukan vaksinasi sendiri terhadap ikan yang dibudidayakan olehnya. Harapannya, dengan skill vaksinasi yang dimiliki oleh tiap-tiap pembudidaya, target pencapaian produksi perikanan Indonesia sebesar 353% segera terpenuhi (mah/bbap-s). GERAKAN VAKSINASI BBAP SITUBONDO Sejalan dengan perkembangan budidaya ikan kerapu adalah kegagalan akibat penyakit, hal ini sudah mulai dirasakan sebagai penyebab utama kegagalan produksi ikan tersebut. Salah satu penyakit yang menyerang ikan kerapu adalah vibriosis dan pengobatan terhadap penyakit ini biasanya dilakukan dengan pemberian antibiotik. Namun, hal ini sudah tidak diperkenankan lagi sejalan dengan kebijakan “say no to antibiotik” dan tuntutan pasar global akan keamanan pangan, kualitas produk bebas antibiotik dan ramah lingkungan. Salah satu upaya penanganan pengendalian dan pencegahan penyakit bakterial dengan vaksinasi sebagai alternatif pengganti pemakaian antibiotik dalam pengendalian penyakit. Bertolak dari hal tersebut, Balai Budidaya Air Payau Situbondo merasa terpanggil untuk mengadakan “Gerakan Vaksinasi Ikan” yang dimulai dari induk dan benih ikan kerapu. Dengan adanya Gerakan Vaksinasi ikan ini diharapkan dapat menurunkan tingkat serangan Vibriosis pada ikan kerapu. Langkah-langkah yang sudah dilakukan dalam Gerakan Vaksinasi Ikan adalah : 1. Pelatihan Vaksinasi dan Hematologi Ikan Kerapu pada tahun 2009 dan 2010 bagi Analis laboratorium dan Pembudidaya Ikan 2. Vaksinasi di lingkungan Balai Budidaya Air Payau Situbondo 3. Pelayanan Vaksinasi bagi pembudidaya ikan di KJA, hatchery dan tambak di Situbondo dan Bali.
Respon dari masyarakat terhadap kegiatan Gerakan Vaksinasi Ikan ternyata sangat baik. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya permintaan masyarakat yang ingin menjadi peserta pelatihan Vaksinasi dan Hematologi Ikan Kerapu, maka pada tahun 2011 akan diadakan kembali pelatihan tersebut untuk melatih masyarakat dalam Vaksinasi Ikan. Output yang diharapkan dengan adanya Pelatihan Vaksinasi dan Hematologi Ikan Kerapu ini adalah dapat mempersiapkan petugas lapangan dan teknisi pembudidaya ikan agar mampu melakukan vaksinasi ikan sebagai alternatif pengganti pemakaian antibiotik dalam pengendalian penyakit. Vaksinasi ikan di Balai Budidaya Air Payau Situbondo dimulai dari induk-induk ikan kerapu, yaitu induk kerapu tikus, kerapu macan dan kerapu kertang. Jumlah induk yang divaksin meliputi 110 ekor calon induk kerapu macan dengan berat rata-rata 4 kg, 40 ekor induk kerapu macan 80 ekor induk kerapu tikus dan 18 ekor induk kerapu kertang. Vaksinasi dilakukan setiap 3 bulan sekali dimulai bulan Maret, Juni, September 2010. Selain di induk vaksinasi juga dilakukan untuk benih.
Selain vaksinasi di lingkungan BBAP Situbondo, BBAP Situbondo juga melakukan sosialisasi vaksinasi pada pendederan ikan kerapu di hatchery swasta. Beberapa hatchery yang melakukan vaksinasi yang telah dilakukan oleh tenaga vaksinator dari BBAP Situbondo adalah UD. Sumber Kerapu Sejati (SKS), PT AMA, PT. Kelola Benih Unggul (KBU), tambak Bp. Heru, hatchery 5 M dan pendederan ikan untuk KJA Sumbawa. Selain memberikan jasa tenaga vaksinator juga sekaligus memberikan bimbingan teknis kepada teknisi hatchery agar mampu melakukan vaknisasi sendiri. Sedangkan untuk kebutuhan vaksin dapat menghubungi BBAP Situbondo. Dari semua hatchery yang telah dilakukan vaksinasi semua memberikan hasil yang sangat baik. Selain ikan terbebas dari serangan penyakit vibriosis, para pemilik hatchery juga melaporkan bahwa ikan-ikan yang telah divaksin nafsu makannya meningkat, sehingga ikan menjadi lebih cepat tumbuh dan besar.
Pentingnya vaksinasi sebagai alternatif pengendalian penyakit dapat menekan pemakaian antibiotik di masyarakat yang dapat berdampak negatif yaitu timbulnya bakteri yang resisten, penumpukan residu di daging dan pencemaran lingkungan. Vaksinasi merupakan salah satu cara pencegahan terhadap penyakit ikan dengan merangsang kekebalan ikan yang divaksin terhadap suatu penyakit tertentu pada ikan tidak menimbulkan dampak yang negatif baik pada ikan, lingkungan maupun konsumen. Dengan demikian penggunaan vaksin tampaknya mempunyai harapan yang cukup baik.
Dengan adanya sosialisasi vaksinasi ikan secara terus menerus diharapkan nantinya vaksinasi akan menjadi SOP yang wajib dipenuhi oleh stakeholder sebelum ikan diperjual belikan, sehingga kegagalan panen akibat Vibriosis dapat ditekan dan produksi dapat meningkat sehingga dapat mendukung target peningkatan produksi 353 % yang dicanangkan Bapak Menteri Kelautan dan Perikanan.
Sumber: http://www.perikanan-budidaya.kkp.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=403:-gerakan-vaksinasi-ikan-kerapu-di-bbap-situbondo-sebagai-upaya-peningkatan-produksi-perikanan-budidaya-&catid=113:berita&Itemid=127 |
| Last Updated on Saturday, 25 June 2011 02:26 |